Tema: Anti-Kesetaraan Abu Jahal vs Keteguhan Sumayyah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, pada kultum sebelumnya kita telah membahas mengapa Abu Jahal mendapat julukan “bapak kebodohan” meski sebenarnya ia seorang cerdas. Salah satu alasan penolakannya terhadap Islam adalah karena ia anti-kesetaraan. Abu Jahal tidak mau disamakan dengan orang miskin atau budak. Baginya, menerima Islam berarti meruntuhkan tembok status sosial yang selama ini ia banggakan.
Namun, di sisi lain, ada sosok sederhana bernama Sumayyah binti Khayyat. Ia seorang budak, bukan bangsawan, bukan orang kaya. Tetapi ia termasuk orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Karena imannya, ia disiksa dengan kejam oleh Abu Jahal. Dalam siksaan itu, Sumayyah tetap teguh, tidak mau meninggalkan Islam. Hingga akhirnya ia wafat sebagai syahidah pertama dalam Islam.
Perhatikan kontrasnya: Abu Jahal menolak Islam karena gengsi sosial, sementara Sumayyah menerima Islam dengan penuh kerendahan hati. Abu Jahal takut kehilangan status, Sumayyah rela kehilangan nyawa demi iman.
Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Nabi bersabda: “Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, kecuali dengan takwa.” (HR. Muslim).
Saudara-saudaraku, kisah ini relevan sekali dengan kehidupan kita sekarang. Di media sosial, sering viral kisah orang kecil yang justru menunjukkan keteguhan iman dan kejujuran. Misalnya seorang ibu penjual makanan yang tetap jujur meski uangnya tertukar, atau seorang anak muda yang tetap shalat di tengah keramaian konser. Mereka sederhana, tapi keteguhan hati mereka membuat orang lain kagum.
Sementara itu, ada juga kisah viral orang berpendidikan tinggi atau pejabat yang justru tersandung kasus korupsi, menipu rakyat, atau sombong di depan publik. Inilah Abu Jahal zaman modern—pintar, berkuasa, tapi hatinya tertutup.
Pelajaran bagi kita:
- Kesombongan menutup pintu hidayah. Abu Jahal sombong, akhirnya binasa.
- Keteguhan iman mengangkat derajat. Sumayyah sederhana, tapi Allah angkat namanya sepanjang sejarah.
- Takwa adalah ukuran kemuliaan. Bukan harta, bukan jabatan, bukan status sosial.
Saudara-saudaraku, mari kita belajar dari Abu Jahal dan Sumayyah. Jangan sampai kita pintar tapi sombong, kaya tapi kufur. Jadilah seperti Sumayyah, sederhana tapi teguh dalam iman. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah, rendah hati, dan selalu dekat dengan-Nya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Daftar Pustaka Ringkas:
- Belajar dari Abu Jahal – Ilmu Tanpa Hidayah
- Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah [2]: 6–7; QS. Al-Hujurat [49]: 13.
- Hadis Nabi: HR. Muslim; HR. Hakim.
- Ibn Hisham, Sirah Nabawiyah.
- Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk.