Tema: Abu Jahal – Menukar Iman dengan Ekonomi
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, pada kultum sebelumnya kita telah membahas mengapa Abu Jahal menolak Islam: ia cerdas tapi hatinya tertutup, ia sombong dan anti-kesetaraan. Hari ini kita akan menggali alasan lain yang tak kalah penting: motif ekonomi.
Mekkah pada masa itu adalah pusat perdagangan dan ziarah berhala. Ada 360 berhala di sekitar Ka’bah, dan orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk beribadah kepada berhala-berhala itu. Dari situlah Quraisy, termasuk Abu Jahal, mendapatkan keuntungan besar. Mereka menjual jasa, berdagang, dan menguasai arus ekonomi.
Ketika Nabi Muhammad SAW datang membawa Islam, beliau menyeru agar semua berhala dihancurkan dan hanya Allah yang disembah. Bagi Abu Jahal, ini ancaman besar. Ia khawatir jika berhala hilang, maka orang-orang tidak lagi datang ke Mekkah, perdagangan merosot, dan keuntungan hilang. Karena itu, ia menolak Islam bukan karena tidak paham, tetapi karena takut kehilangan sumber ekonomi.
Allah berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).’” (QS. Fussilat [41]: 26). Ayat ini menggambarkan bagaimana orang kafir Quraisy berusaha menolak dakwah Nabi dengan alasan duniawi.
Saudara-saudaraku, pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Di media sosial, sering viral kisah orang yang rela menukar iman demi keuntungan sesaat. Ada yang meninggalkan shalat karena sibuk berdagang, ada yang menghalalkan segala cara demi bisnis, bahkan ada yang menipu pelanggan demi keuntungan cepat. Mereka seperti Abu Jahal—menukar iman dengan ekonomi.
Sebaliknya, ada juga kisah viral orang kecil yang tetap menjaga iman meski rugi secara materi. Misalnya pedagang yang tetap jujur meski kehilangan untung, atau pekerja yang tetap shalat meski ditegur atasan. Mereka seperti Sumayyah—teguh dalam iman meski harus menanggung kerugian dunia.
Pelajaran bagi kita:
- Jangan menukar iman dengan keuntungan sesaat.
- Jangan biarkan bisnis atau pekerjaan membuat kita lalai dari Allah.
- Ingatlah bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari berhala, bukan dari tipu daya.
Allah berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq [65]: 2–3).
Saudara-saudaraku, mari kita belajar dari Abu Jahal dan Sumayyah. Abu Jahal menolak Islam demi ekonomi, akhirnya binasa. Sumayyah rela kehilangan nyawa demi iman, akhirnya Allah angkat derajatnya. Semoga kita tidak tergoda menukar iman dengan dunia, dan semoga Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam iman dan takwa.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
📚 Daftar Pustaka Ringkas
- Belajar dari Abu Jahal – Ilmu Tanpa Hidayah
- Al-Qur’an: QS. Fussilat [41]: 26; QS. At-Talaq [65]: 2–3.
- Hadis Nabi: HR. Muslim.
- Ibn Hisham, Sirah Nabawiyah.
- Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk.