Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, pagi ini mari kita renungkan sebuah kisah dari sejarah Islam, tentang sosok yang sering kita dengar: Abu Jahal. Kita sering mengira Abu Jahal adalah orang bodoh. Namanya saja “Abu Jahal”—bapak kebodohan. Tetapi sebenarnya, nama aslinya adalah Amr bin Hisham, dan masyarakat Quraisy menjulukinya Abu al-Hakam, artinya “Bapak Kebijaksanaan”. Ia seorang yang cerdas, diplomat ulung, dan politisi berpengaruh di Mekkah.
Namun, mengapa orang sepintar itu justru menjadi musuh besar Islam?
Pertama, karena gengsi klan.
Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, sedangkan Nabi Muhammad dari Bani Hasyim. Dua klan ini bersaing sejak lama. Mengakui kenabian Muhammad berarti mengakui kemenangan mutlak klan rival. Ego dan gengsi membuatnya buta terhadap kebenaran. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati mereka...” (QS. Al-Baqarah [2]: 6–7).
Kedua, motif ekonomi.
Mekkah saat itu kaya karena menjadi pusat ziarah berhala. Ada 360 berhala di sekitar Ka’bah. Jika Islam datang dan berhala dihancurkan, ia khawatir ekonomi Mekkah runtuh. Ia menolak Islam demi mempertahankan bisnis duniawi.
Ketiga, anti-kesetaraan.
Islam datang membawa ajaran bahwa semua manusia sama di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah takwa. Abu Jahal merasa terhina bila disamakan dengan mantan budak atau orang miskin. Kesombongan sosial membuatnya menolak kebenaran. Nabi bersabda: “Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, kecuali dengan takwa.” (HR. Muslim).
Saudara-saudaraku, inilah yang disebut “jahil”—bukan karena kurang ilmu, tapi karena menukar kebenaran abadi dengan kekuasaan sementara. Kisah Abu Jahal memberi pelajaran besar bagi kita.
Pertama, ilmu tidak menjamin hidayah. Abu Jahal melihat mukjizat Nabi lebih banyak daripada sahabat, tapi tetap menolak. Hidayah hanya Allah yang memberi.
Kedua, jangan biarkan gengsi, ekonomi, atau status sosial menutup hati kita dari kebenaran. Kadang di desa kita, ada orang yang gengsi ikut pengajian karena merasa lebih pintar, atau malu dianggap sama dengan orang kecil. Padahal, di hadapan Allah, yang mulia adalah yang bertakwa.
Ketiga, jangan menukar iman dengan kepentingan dunia. Abu Jahal memilih berhala demi ekonomi. Kita jangan sampai meninggalkan shalat, zakat, atau kejujuran demi keuntungan sesaat.
Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Saudara-saudaraku, mari kita jadikan kisah Abu Jahal sebagai cermin. Jangan sampai kita pintar, tapi hati kita tertutup. Jangan sampai kita punya ilmu, tapi kalah oleh gengsi dan nafsu. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang rendah hati, menerima kebenaran, dan istiqamah dalam iman.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Daftar Pustaka:
- Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah [2]: 6–7; QS. Al-Hujurat [49]: 13.
- Hadis Nabi: HR. Muslim; HR. Bukhari.
- Ibn Hisham, Sirah Nabawiyah.
- Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk.
- Konten Instagram @dsw_eick6bE (tentang Abu Jahal sebagai tokoh Quraisy).