🌟 Naskah Kultum: “Harga Sebuah Iman – Teladan dari Abū ‘Ubaidah bin al-Jarrāḥ”
Pembuka:
Isi:
Hari ini, mari kita merenungkan kisah luar biasa dari seorang sahabat yang dijuluki oleh Rasulullah ﷺ sebagai “Orang paling amanah di antara umat ini”—yaitu Abū ‘Ubaidah bin al-Jarrāḥ.
1. 🗡️ Mengutamakan Iman di atas Ikatan Darah
Dalam Perang Badar, Abū ‘Ubaidah menghadapi ayahnya sendiri yang berada di barisan musyrikin. Ia berusaha menghindar, namun karena terus diserang, ia akhirnya terpaksa melawan dan membunuh ayahnya demi mempertahankan iman dan Rasulullah ﷺ.
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka...” (QS Al-Mujādilah: 22)
Ayat ini turun sebagai pujian kepada para sahabat yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada keluarga mereka sendiri. Di antara mereka adalah Abū ‘Ubaidah bin al-Jarrāḥ.
2. 🦷 Pengorbanan Fisik demi Rasulullah ﷺ
Dalam Perang Uhud, ketika wajah Rasulullah ﷺ terluka dan besi menancap di pipi beliau, Abū ‘Ubaidah maju dan mencabut besi itu dengan giginya hingga giginya patah. Ia tidak peduli pada penampilan, yang penting Rasulullah ﷺ selamat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setiap umat memiliki orang yang paling amanah, dan orang yang paling amanah dari umat ini adalah Abū ‘Ubaidah bin al-Jarrāḥ.” (HR. Bukhari, no. 3744; Muslim, no. 2419)
3. 🏠 Kesederhanaan di Puncak Kekuasaan
Ketika menjadi gubernur Syam, Abū ‘Ubaidah tetap hidup sederhana. Ketika ‘Umar bin al-Khaṭṭāb mengunjunginya dan melihat rumahnya yang kosong, beliau menangis dan berkata:
“Dunia telah merubah semua orang, kecuali engkau, wahai Abū ‘Ubaidah.”
Kesederhanaan ini mencerminkan sabda Nabi ﷺ:
“Berbahagialah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, diberi rezeki yang cukup, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.” (HR. Muslim, no. 1054)
4. 🦠 Wafat dalam Wabah dengan Keikhlasan
Ketika Tha‘ūn ‘Amwās (wabah) melanda Syam, Abū ‘Ubaidah memilih tetap tinggal bersama rakyatnya. Ia berkata:
“Musibah ini adalah rahmat Allah bagi umat Muhammad ﷺ. Aku ingin mendapat bagian darinya.”
Ia wafat dalam keadaan ridha, sabar, dan tetap memimpin dengan tenang.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tha‘ūn adalah syahadah (mati syahid) bagi setiap Muslim.” (HR. Bukhari, no. 2830; Muslim, no. 1916)
Penutup:
Sahabat sekalian, kisah Abū ‘Ubaidah mengajarkan kita bahwa iman bukan sekadar keyakinan, tapi pengorbanan. Ia rela kehilangan ayah, gigi, pangkat, bahkan nyawa—demi Allah dan Rasul-Nya.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah menjadikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi dari cinta kepada dunia?
“Engkau akan bersama siapa yang engkau cintai.” (HR. Bukhari, no. 6169; Muslim, no. 2639)
Semoga kita termasuk orang-orang yang dikenal oleh Rasulullah ﷺ sebagai umat yang mencintainya dengan tulus.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.