Pintu Surga di Tepian Jalan

 Mukadimah

Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wanastaghfiruh, wa na'uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyi-aati a'maalinaa. May yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wamay yudhlil falaa haadiya lah, wa asyhadu an laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhuu wa rosuuluh.

Bagian 1: Sebuah Pemandangan yang Biasa

Jamaah shalat yang dirahmati Allah,

Mari kita membayangkan sebuah pemandangan: Matahari sedang terik-teriknya. Di sebuah jalanan tanah yang ramai, orang-orang melintas dengan wajah letih. Namun, tepat di tengah jalur perlintasan itu, ada sebatang dahan pohon berduri yang melintang. Orang-orang yang lewat hanya menyingkir sedikit. Mereka menghindar karena tidak ingin tertusuk, lalu kembali berjalan cepat. Mereka menganggap itu bukan urusan mereka.

Bagian 2: Tindakan Kecil Tanpa Penonton

Hingga kemudian, datanglah seorang pria pejalan kaki. Langkahnya terhenti. Ia tidak langsung menghindar, tapi hatinya tergerak. Ia membayangkan bagaimana jika ada saudaranya yang tersandung atau terluka. Maka, tanpa peduli ada yang melihat atau tidak, ia mencengkeram ranting kasar itu dan menyeretnya jauh ke tepi jalan.

Inilah kisah yang diabadikan dalam Shahih Muslim No. 1914, di mana Rasulullah SAW bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

"Sungguh aku telah melihat seorang lelaki bersenang-senang di surga disebabkan sebuah pohon yang ia potong dari tengah jalan karena dahan itu mengganggu manusia."

Sesaat setelah ia selesai menyingkirkan dahan tersebut, ia berujar: "Demi Allah, aku singkirkan ini agar tidak mengganggu kaum muslimin." Kejadian yang tak sampai satu menit itu langsung menembus langit ketujuh. Allah rida, mengampuni seluruh dosanya, dan membalasnya dengan surga.

Bagian 3: Jangan Meremehkan Jalan Kebaikan

Jamaah sekalian,

Kadang kita terlalu lelah mencari cara menebus kesalahan masa lalu. Kita berpikir harus melakukan hal yang raksasa agar Allah memaafkan kita. Padahal, Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (biji sawi), niscaya dia akan melihat (balasan)nya."

Kisah ini membuktikan bahwa pintu ampunan itu sangat dekat. Jangan pernah meremehkan amal sekecil apa pun. Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadis lainnya:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun itu hanya sekadar menampakkan wajah ceria saat bertemu saudaramu." (HR. Muslim)

Penutup

Pintu surga mungkin ada pada batu yang kita singkirkan agar ban motor orang tidak pecah. Pintu surga mungkin ada pada kesabaran kita menahan lisan di grup WhatsApp. Mari kita lebih peka terhadap "dahan berduri" di sekitar kita. Singkirkanlah itu dengan ikhlas, karena kita tidak pernah tahu dari pintu kecil mana nama kita akan dipanggil untuk masuk ke dalam surga-Nya.

Barakallahu lii wa lakum. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama