Mahar di Balik Mukjizat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

[Mukadimah dan Pembukaan]

Alhamdulillah, Alhamdulillahilladzi hadana lihadza, wa ma kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

​Jamaah shalat subuh yang insya Allah senantiasa dinaungi rahmat Allah,

​Pernahkah kita merasa bahwa perintah Allah itu "berat" atau secara akal manusiawi terasa "tidak menyambung" dengan hasil yang kita inginkan? Kita bekerja keras, tapi hasil belum tampak. Kita berdoa khusyuk, tapi pintu seolah masih tertutup.

​Hari ini kita akan belajar satu rahasia besar: Bahwa dalam setiap perintah-Nya, Allah sebenarnya tidak sedang menunggu hasil dari tangan kita, melainkan sedang menunggu kepasrahan dari hati kita.

[Nabi Ibrahim dan Logika Pisau]

​Mari kita tadaburi kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika beliau diperintahkan menyembelih putra tercintanya, Ismail. Bayangkan, seorang ayah yang menunggu buah hati selama puluhan tahun, lalu diminta mengurbankannya. Secara logika, ini adalah puncak kepedihan.

​Namun, perhatikan apa yang diabadikan Allah dalam Surah As-Saffat ayat 102:

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”

​Ibrahim mengangkat pisaunya bukan karena ia ingin membunuh anaknya, tapi karena ia patuh pada Tuhannya. Dan saat pisau itu menempel di leher, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar.

Hikmahnya: Pisau itu tidak ditakdirkan untuk memotong. Ia hanya alat uji. Seringkali, "pisau" kesulitan yang kita pegang hari ini hanyalah cara Allah memastikan apakah kita masih setia pada perintah-Nya atau lebih takut pada keadaan.

[Nabi Musa dan Logika Tongkat]

​Pindah ke tepian Laut Merah. Nabi Musa AS terjepit. Di depan ada ombak yang mengganas, di belakang ada pedang Firaun yang berkilau. Secara militer, ini adalah kiamat kecil. Namun, Allah memerintahkan sesuatu yang "aneh": Pukullah laut itu dengan tongkat.

​Logika kita bertanya: Apa hubungannya kayu dengan membelah air? Tapi Musa tidak bertanya. Beliau memukulnya. Dan Allah berfirman dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 63:

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap bagian seperti gunung yang besar.”

​Apakah tongkat itu yang membelah laut? Tentu tidak. Yang membelah laut adalah Kun Fayakun-Nya Allah. Tapi Allah menuntut Musa melakukan "aksi" sebagai mahar datangnya mukjizat. Allah ingin kita melakukan bagian kita yang kecil, agar Allah menunjukkan kuasa-Nya yang besar.

[Ibunda Hajar dan Logika Safa-Marwah]

​Lalu lihatlah Ibunda Hajar di tengah gersangnya Makkah. Beliau berlari dari Safa ke Marwah tujuh kali. Secara akal, mencari air di puncak bukit batu adalah kesia-siaan. Tapi beliau tetap berlari. Kenapa? Karena beliau yakin jika ini perintah Allah, maka Allah tidak akan menelantarkannya.

​Hasilnya? Air zam-zam tidak keluar dari bukit tempat beliau berlari, tapi keluar dari hentakan kaki bayi Ismail. Ini adalah pelajaran bahwa ikhtiar adalah kewajiban, tapi hasil adalah hak prerogatif Allah.

​Allah berfirman tentang kemuliaan Safa dan Marwah dalam Surah Al-Baqarah ayat 158:

“Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah...”

​Perjuangan yang seolah "sia-sia" di mata manusia itu, justru diangkat oleh Allah menjadi syiar agama yang abadi hingga hari kiamat.

[Penutup dan Kesimpulan]

​Jamaah sekalian,

​Pesan dari semua kisah ini adalah satu: Jangan pernah berhenti melangkah meski logika belum menemukan jawabannya.

  • ​Tetaplah shalat meski hatimu belum tenang.
  • ​Tetaplah bersedekah meski hitungan matematikamu bilang kau akan kekurangan.
  • ​Tetaplah jujur meski sekelilingmu curang.

​Sebab, tugas kita hanyalah "mengetuk pintu" dengan ketaatan. Perkara kapan pintu itu terbuka dan apa yang ada di baliknya, itu urusan sang Pemilik Pintu. Sebagaimana janji Allah dalam Surah At-Talaq ayat 3:

“...Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

​Mudah-mudahan, kita pulang dari masjid ini dengan keyakinan baru: Bahwa setiap lelah kita dalam ketaatan, tidak pernah ada yang sia-sia di mata Allah SWT.

Hadallahu waiyyakum ajma'in. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama