Audit Syar'i Atas Amal Kita

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memberikan kita kesempatan untuk bersujud di fajar yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sosok yang mengajarkan kita bahwa inti dari agama adalah kemanfaatan bagi sesama.

Jamaah shalat Subuh yang dirahmati Allah,

Mari kita memulai pagi ini dengan sebuah renungan yang mungkin sedikit mengusik kenyamanan kita. Bayangkan suatu saat nanti, di hadapan Allah SWT, kita membawa "piala" amal besar kita. Salah satunya adalah sebuah masjid megah yang kita bangun dengan biaya 2 miliar rupiah. Masjid itu indah, marmernya berkilau, dan semua orang memuji kedermawanan kita.

Namun, Gus Baha dalam sebuah pesan singkatnya mengingatkan kita pada sebuah kemungkinan "audit" dari Allah. Allah mungkin akan bertanya: "Hamba-Ku, masjid itu sebetulnya dengan 1 miliar saja sudah sangat kokoh untuk tempat sujud. Lalu, mengapa engkau habiskan 1 miliar sisanya hanya untuk kemewahan fisik, padahal di sekitarmu ada fakir miskin yang kelaparan? Ada anak yatim yang masa depannya terancam karena biaya sekolah? Seandainya 1 miliar itu engkau alihkan untuk mereka, niscaya mereka semua akan sejahtera."

Di sinilah letak jebakannya. Kadang kita merasa paling mulia karena membangun fisik masjid, tapi kita lupa mengaudit prioritas syariat. Kita lebih tertarik pada kemegahan bangunan daripada pada perut yang lapar atau pendidikan yang terbengkalai.

Padahal, jika kita menilik sejarah dan hadis, Rasulullah SAW memberikan timbangan yang jelas. Beliau bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

“Orang yang membantu janda dan orang miskin, pahalanya seperti orang yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang shalat malam tanpa henti dan berpuasa tanpa berbuka.”

Betapa ironisnya jika kita memiliki masjid yang luar biasa mewah, namun orang-orang di sekitarnya tidak tahu cara berwudhu yang benar, tidak tahu mana yang halal dan haram, atau bahkan tidak bisa makan. Gus Baha menekankan, apa artinya kubah yang megah jika umatnya "buta" akan ilmu agama karena tidak mampu membeli kitab atau membayar guru ngaji?

Kita bisa mengambil hikmah dari Sayyidina Umar bin Khattab RA. Beliau adalah pemimpin yang sangat memperhatikan detail kebutuhan rakyatnya. Pernah suatu malam beliau berkeliling dan menemukan sebuah keluarga yang kelaparan, sementara ibunya hanya merebus batu agar anak-anaknya tenang. Umar tidak memerintahkan mereka pergi ke bangunan megah, tapi Umar sendiri yang memanggul gandum untuk memberi mereka makan.

Bagi Umar, kebaikan bukan soal membangun monumen, tapi soal memastikan tidak ada perut yang keroncongan di bawah kepemimpinannya. Inilah "audit" yang seharusnya kita lakukan setiap hari.

Jamaah sekalian,

Satu pesan kunci yang harus kita bawa pulang pagi ini adalah: "Manusia itu, ketika berbuat baik pun, diperintahkan untuk beristighfar." Mengapa? Karena saat kita menyumbang besar, seringkali yang muncul adalah rasa kumo luhur—merasa paling hebat dan paling berjasa. Kita merasa sudah masuk surga karena membangun masjid, padahal mungkin ada hak tetangga yang terabaikan karena ego kita yang ingin terlihat dermawan secara visual.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-3:

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."

Jangan sampai kita menjadi "pendusta agama" dalam balutan jubah kedermawanan yang salah prioritas.

Mari kita ubah cara berpikir kita. Sebelum memoles masjid dengan kemewahan tambahan, tanyakan dulu: Penting mana antara marmer baru dengan makan tetangga? Penting mana antara menara tinggi dengan pendidikan anak yatim?

Berbuat baiklah dengan ilmu, bukan sekadar emosi. Semoga Allah membersihkan niat kita dan menjadikan setiap rupiah yang kita keluarkan benar-benar tepat sasaran di mata-Nya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Daftar Pustaka & Referensi Materi

  • Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim). Konsep Sedekah yang Benar Menurut Rasulullah. Video YouTube Shorts via kanal seyesa, diunggah April 2026.
  • Al-Qur'an Surah Al-Ma'un (107): 1-3. Tentang kriteria pendusta agama yang mengabaikan anak yatim dan fakir miskin di tengah rutinitas ibadah.
  • Al-Qur'an Surah Al-Baqarah (2): 273. Mengenai prioritas sedekah kepada orang-orang yang terikat di jalan Allah (penuntut ilmu/fisabilillah) yang tidak sempat mencari nafkah.
  • Hadis Riwayat Al-Bukhari (No. 5353) & Muslim (No. 2982). Tentang pahala menyantuni janda dan orang miskin yang setara dengan mujahid fi sabilillah atau orang yang shalat malam tanpa henti.
  • Hadis Riwayat Al-Bukhari (No. 1). Tentang pentingnya niat (Innamal a'malu binniyat) dalam setiap amal, termasuk saat membangun fasilitas publik/agama.
  • Kitab Al-Bidayah wan Nihayah (Ibnu Katsir). Riwayat tentang Umar bin Khattab RA yang memanggul sendiri karung gandum untuk keluarga miskin yang kelaparan di pinggiran Madinah.
  • Kitab Hayatus Shahabah (Syeikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi). Kisah kedermawanan Abu Bakar Ash-Siddiq RA yang mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama