Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudaraku sekalian, pagi ini saya ingin berbagi sebuah kisah yang indah dan penuh pelajaran. Kisah ini terjadi di masa kejayaan Islam, ketika Baghdad berdiri megah sebagai pusat ilmu dan peradaban. Di sana, seorang khalifah besar bernama Harun al-Rasyid memimpin dengan wibawa yang luar biasa. Istana megah, rakyat patuh, dan nama beliau harum hingga ke negeri-negeri jauh.
Suatu hari, ketika sang khalifah berjalan dengan penuh kebesaran, diiringi pengawal dan rakyat yang menunduk hormat, tiba-tiba datang seorang lelaki lusuh. Rambutnya kusut, pakaiannya compang-camping, wajahnya tak terurus. Orang-orang mengenalnya sebagai majnun—orang gila. Biasanya, orang seperti itu dihindari, dianggap tak waras, bahkan disepelekan. Namun hari itu, ia berdiri tegak di hadapan khalifah, tanpa rasa takut, lalu berkata dengan suara lantang:
“Wahai Harun al-Rasyid, janganlah engkau sombong. Engkau hanyalah manusia. Engkau makan seperti kami, engkau tidur seperti kami, engkau sakit seperti kami, dan engkau pun akan mati seperti kami.”
Bayangkan suasana yang terjadi. Semua orang terdiam, kaget, bahkan mungkin marah. Bagaimana mungkin seorang majnun berani menasihati khalifah? Tetapi kata-kata itu menusuk hati. Harun al-Rasyid, seorang pemimpin besar, tidak marah. Ia justru terdiam, merenung, dan menerima nasihat tersebut.
Saudaraku, di sinilah letak keindahan kisah ini. Allah menunjukkan bahwa kebenaran bisa datang dari siapa saja. Bahkan dari mulut seorang majnun, yang dianggap tidak waras, bisa keluar nasihat yang menundukkan hati seorang khalifah. Kesombongan adalah racun, dan kerendahan hati adalah kemuliaan. Harun al-Rasyid menunjukkan kebesaran jiwa dengan menerima nasihat itu.
Pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Betapa sering kita merasa lebih tinggi karena jabatan, harta, atau popularitas. Betapa sering kita menyepelekan orang kecil, anak-anak, atau bahkan orang yang dianggap tidak berilmu. Padahal, bisa jadi Allah menitipkan hikmah melalui mereka. Di era media sosial, kita mudah terjebak dalam pujian dan pengikut, lalu merasa diri lebih hebat dari orang lain. Kisah ini mengingatkan kita: semua manusia sama di hadapan Allah. Kita makan, tidur, sakit, dan akhirnya mati. Tidak ada yang bisa dibawa kecuali amal.
Maka, mari kita belajar untuk rendah hati. Jangan sombong, karena kesombongan hanya akan menjatuhkan kita. Jadilah hamba yang tawadhu, yang sadar bahwa semua nikmat hanyalah titipan. Dan jangan pernah menutup telinga dari nasihat, siapa pun yang menyampaikannya.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang rendah hati, saling menghargai, dan selalu ingat bahwa kemuliaan sejati adalah ketika kita dekat dengan-Nya.
Amin ya Rabbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.